Artikel

Fokus Sempit vs Fokus Luas

Seiring kemajuan teknologi, kita semakin gencar terpapar banjir informasi. Sejak bangun pagi hingga malam menjelang tidur kita terus membaca berbagai informasi dari buku, surat kabar, dan aneka aplikasi pesan.

Saat mata melihat dan membaca berbagai informasi, kita masuk ke fokus sempit. Fokus sempit sangat bermanfaat: untuk belajar, mengendarai mobil dengan cermat, dan berbagai aktivitas yang membutuhkan konsentrasi. Sejak kecil kita dikondisikan untuk melakukannya: “Jangan melamun, perhatikan bukumu”, “Konsentrasi”, “Baca yang teliti”.

Namun segala sesuatu yang berlebihan pasti berakibat tidak baik. Fokus sempit dalam waktu lama berdampak buruk bagi otak, pikiran, dan kesehatan, apalagi saat membaca atau bermain game di gadget berlayar kecil.

Gelombang Otak

Pada umumnya kita mengenal empat gelombang otak: Beta mewakili kondisi sadar normal dan aktivitas berpikir; Alfa (8-12 Hz) saat pikiran santai dan rileks, jembatan antara pikiran sadar dan bawah sadar; Theta (4-8 Hz) saat pikiran lebih pasif atau meditatif; dan Delta (0,1-4 Hz) mewakili tidur lelap.

Beta terbagi tiga rentang. Beta rendah (13-15 Hz) aktif saat kita membaca dan memahami materi; kita belajar maksimal dengan Beta rendah. Beta sedang (16-22 Hz) muncul saat fokus berkelanjutan pada stimulus luar. Beta tinggi (22-50 Hz) muncul saat stres, kecemasan tinggi, atau fokus sempit yang berlebihan.

Beta tinggi adalah bagian dari sistem pertahanan diri dan baik bila beroperasi sebentar saja. Bila bertahan lama, ia mengakibatkan stres dan ketidakseimbangan karena membutuhkan energi sangat besar: itu frekuensi otak untuk kondisi genting atau bahaya.

Saat melakukan fokus sempit terlalu lama, tubuh bereaksi: otot pundak dan leher kaku, lelah, akhirnya sulit konsentrasi. Secara umum orang dewasa hanya mampu fokus maksimal 30 menit; sangat baik bila setiap 30 menit kita rehat sekitar 5 menit.

Saat ini banyak anak yang mengalami gangguan konsentrasi. Salah satu penyebabnya: hampir sepanjang hari mereka melakukan fokus sempit saat bermain game atau gadget, yang memunculkan gelombang Beta tinggi dan, tanpa disadari, perasaan cemas yang mengganggu proses belajar.

Fokus Luas

Cara lain untuk fokus adalah melihat sesuatu secara luas dan lebar. Otak kita pada dasarnya dirancang untuk lebih sering melakukan fokus luas, yang mudah dilakukan saat berada di alam, melihat pemandangan, atau membayangkan ruang kosong.

Saat seseorang melakukan fokus luas, otak menghasilkan gelombang Alfa sinkron di seluruh wilayah otak, yang sangat baik untuk kesehatan dan membuat kita tenang, nyaman, rileks, dan damai. Itu sebabnya setelah pulang berlibur ke alam kita merasa jauh lebih rileks.

Dilansir dari www.adiwgunawan.com

Kenali Potensi Anak Lebih Dalam

Artikel membuka wawasan; asesmen memberi peta. Mulai dari tes sampel gratis Grouwell, sekitar lima menit saja.