Ada satu asumsi yang salah mengenai proses belajar. Pada umumnya kita berasumsi bahwa bila guru mengajar maka murid pasti belajar. Benarkah demikian? Tentu saja tidak. Mengajar merupakan satu proses. Belajar juga satu proses tersendiri. Di antara mengajar dan belajar terdapat jurang pemisah yang cukup lebar. Tugas kita sebagai orangtua dan pendidik adalah menyediakan jembatan penghubung sehingga terjadi koneksi antara mengajar dan belajar.
Asumsi adalah menerima sesuatu sebagai hal benar tanpa memeriksa atau memastikan kebenarannya. Jadi, kalau kita berpikir dan bertindak hanya berdasar asumsi maka jadinya ya seperti sekarang ini. Guru dan orangtua frustrasi karena telah mengajar dengan sungguh-sungguh sedangkan murid atau anak tidak mengerti dan belum bisa menyerap apa yang diajarkan. Guru dan orangtua frustrasi, murid atau anak depresi.
Jurang pemisah ini terutama karena guru/orangtua tidak mengerti gaya belajar. Gaya belajar adalah cara yang dirasa paling menyenangkan dan mudah dalam menyerap suatu informasi. Sebenarnya ada lima cara untuk belajar yaitu belajar berdasar indera penglihatan (visual), indera pendengaran (auditori), gerakan/perabaan (kinestetik), indera penciuman (olfaktori), dan indera rasa (gustatori). Lima jalur masuk informasi ini adalah kelima indera kita. Sebenarnya ada satu lagi yaitu melalui pikiran kita.
Setiap jalur punya karakteristik sendiri. Pada umumnya yang paling sering digunakan hanya tiga jalur yaitu visual, auditori, dan kinestetik.
Anak yang visual belajar melalui penglihatan. Anak yang auditori senang belajar dengan membaca sambil mengeluarkan suara atau malah tidak boleh ada suara sama sekali. Sedangkan anak kinestetik senang belajar sambil bergerak. Kombinasi yang umum terjadi adalah visual-auditori, visual-kinestetik, dan auditori-kinestetik.
Anda pasti pernah menemukan anak yang tidak bisa duduk diam saat belajar. Tipe ini adalah tipe kinestetik. Atau mungkin anak anda suka sekali belajar bila anda membacakan materinya. Tipe ini adalah tipe auditori. Dan ada juga yang bisa duduk dan belajar dengan tenang. Yang ini tipe visual.
Singkat kata belajar menjadi sesuatu yang tidak menyenangkan dan merupakan proses yang cukup menyakitkan bagi kebanyakan anak karena tiga hal berikut:
- Karena kita tidak tahu proses belajar yang benar
- Karena kita tidak pernah belajar, diajar, atau mengajarkan cara belajar yang benar
- Karena gaya mengajar tidak sejalan dengan gaya belajar
Tiga Level Sistem Belajar
Proses belajar yang kita lakukan sebenarnya terdiri dari tiga level:
- Sistem Diri (Self System), meliputi aspek relevansi, kemampuan, dan emosi.
- Sistem Metakognisi (Metacognitive System), meliputi aspek penetapan goal pribadi, keputusan untuk terus maju, dan bekerja dengan penuh semangat.
- Sistem Kognisi (Cognitive System), meliputi aspek memproses informasi untuk menyelesaikan tugas.
Setiap proses belajar selalu terjadi dengan urutan seperti di atas, dimulai dengan Sistem Diri, kemudian ke Sistem Metakognisi, dan baru akhirnya ke Sistem Kognisi.
Pernahkah anda bertemu dengan anak yang sulit menghafal suatu materi pelajaran, misalnya IPS atau kosakata bahasa Inggris, namun anak yang sama mampu menghafal nama semua pemain sepak bola, plus nomor punggung, dari tim sepak bola kesayangannya? Mengapa hal ini bisa terjadi? Padahal otak yang digunakan adalah sama.
Masalah muncul karena dalam proses belajar aspek paling penting yaitu Sistem Diri (Self System) seringkali terabaikan.
Sistem Diri (Self System)
Semua proses belajar dimulai di Sistem Diri. Sistem ini meliputi tiga aspek yaitu relevansi, kemampuan, dan emosi.
Mari kita lihat relevansi. Mengapa anak sulit belajar? Karena anak merasa bahwa apa yang ia pelajari tidak ada gunanya bagi hidupnya. Contohnya, anak diminta menghafal nama menteri kabinet. Otak anak akan sangat sulit menyerap informasi ini. Kasusnya akan berbeda bila ia menghafal nama pemain sepak bola atau nama bintang sinetron, karena teman-temannya juga punya hobi sama; pengetahuan itu sangat relevan bagi hidupnya.
Aspek kedua adalah kemampuan. Saat anak merasa tugas yang diberikan terlalu berat, tidak tahu caranya, atau waktunya tidak cukup, motivasi turun dan anak tidak mau belajar. Kalau perasaan tidak mampu ini terus dialami anak maka akan terjadi yang disebut learned helplessness atau ketidakberdayaan yang dipelajari.
Aspek ketiga yaitu emosi. Proses belajar haruslah menjadi perjalanan yang menyenangkan bagi anak. Bila anak mengalami pengalaman menyenangkan, kegembiraan, tantangan positif, pujian, dan rasa ingin tahu yang tinggi saat belajar, secara otomatis anak ingin mengulangi pengalaman positif ini. Inilah sumber motivasi belajar intrinsik.
Intinya, bila anak merasa materi tidak relevan, merasa tidak mampu, dan ada muatan emosi negatif pada pengalaman belajar, maka pintu gerbang pikiran bawah sadar akan langsung menutup. Belajar bisa dilakukan namun informasi tidak masuk ke memori.
Sistem Metakognisi dan Sistem Kognisi
Setelah Sistem Diri berjalan dengan baik maka secara otomatis Sistem Metakognisi juga akan baik. Anak yang telah timbul semangat belajarnya akan bekerja keras dengan hati riang gembira untuk mencapai target pembelajaran, dan walaupun mengalami hambatan ia akan maju terus.
Sistem Kognisi adalah hal yang dilakukan anak saat belajar, aktivitas yang selama ini dikenal sebagai “belajar”. Namun sistem ini hanyalah lanjutan dari dua sistem sebelumnya. Bila keduanya tidak berjalan baik, anak akan mengalami kesulitan belajar: bosan, stres, mengantuk, tidak fokus, sulit konsentrasi, mudah lupa.
Pada tahap inilah barulah teknik-teknik belajar (menghitung cepat, mind mapping, teknik menghafal, membaca cepat) bisa memberi hasil, dan semua teknik ini tidak akan maksimal bila kedua sistem yang mendasarinya tidak berjalan baik. Ini juga menjawab kebingungan banyak orangtua mengapa anaknya sudah dileskan di berbagai kursus tapi prestasi akademiknya tetap tidak meningkat signifikan.
Mental Block
Mental block adalah kepercayaan yang bersifat menghambat kita dalam menggunakan potensi diri secara optimal. Pernahkah anda mendengar anak berkata “Belajar itu sulit dan membosankan”, “Saya nggak bisa bahasa Inggris”, “Saya bodoh matematika”?
Setiap pernyataan itu mencerminkan kepercayaan anak terhadap dirinya sendiri. Pada saat anak menerima hal ini sebagai suatu kebenaran, pada saat itu pula tercipta mental block dalam dirinya, dan anak dengan mental block seperti ini akan mengalami kesulitan belajar.
Tidak ada seorang pun yang bodoh. Yang ada adalah anak yang “diprogram” menjadi bodoh: proses belajar dasar yang salah, materi yang tidak sesuai tahap perkembangan kognisi (Piaget: sensorimotor 0-2 th, praoperasi 2-7 th, operasi konkrit 7-12 th, operasi formal 12-15 th), nilai jelek yang berulang, dan label dari lingkungan, akhirnya mengkristal menjadi kepercayaan “saya memang bodoh”.
Proses belajar yang benar adalah dari konkrit, semi abstrak, ke abstrak. Saat anak masih di sekolah dasar, materi pelajaran seharusnya lebih bersifat konkrit; angka yang abstrak masuk ke pikiran anak melalui benda konkrit yang bisa ia pegang. Dengan benda konkrit anak belajar dengan tiga gaya sekaligus: visual, auditori, dan kinestetik.
Adalah lebih penting untuk mengajar anak mengerti daripada sekadar tahu dengan cara menghafal. Yang penting anak merasa senang belajar. Anak adalah anugerah yang dipercayakan kepada kita; tugas utama orangtua dan pendidik adalah memberikan kasih sayang, pendidikan, dukungan, bimbingan, dan rasa aman sehingga anak tumbuh dengan baik dan mampu menjalani hidup penuh makna.
Dilansir dari www.adiwgunawan.com