Setiap orangtua pasti paham benar pentingnya vaksin untuk kesehatan anak. Vaksin adalah bahan antigenik yang digunakan untuk menghasilkan kekebalan aktif terhadap suatu penyakit; pemberiannya tidak membuat tubuh sakit, justru menguatkan.
Manusia terdiri atas tubuh dan pikiran. Selama ini orangtua pasti ingat untuk memberi vaksin untuk kesehatan tubuh fisik. Lalu, bagaimana dengan vaksin pikiran? Bila ada, bagaimana bentuknya, dan berapa dosis aman yang bisa diberikan pada anak?
Memahami Stres
Berbeda dengan yang dipahami kebanyakan orang, tidak semua stres berakibat buruk. Secara teknis kita mengenal empat jenis stres:
- Eustres adalah stres jangka pendek yang memberikan kekuatan: menantang namun masih dapat dikendalikan, justru meningkatkan antusiasme, kreativitas, motivasi, dan aktivitas fisik. Saat mengalaminya kita memandang situasi sebagai peluang.
- Distres adalah stres yang dirasa terlalu berat dan sulit diatasi; individu merasa terperangkap, tidak berdaya, dan frustrasi. Ada stres akut (intens, cepat hilang) dan kronis (berlangsung lama, paling destruktif).
- Hiperstres terjadi bila seseorang didorong melampaui kemampuannya bertahan, akibat beban berlebih; hal kecil saja dapat memicu respon emosi yang sangat kuat.
- Hipostres adalah kebalikannya: hidup terasa monoton, tanpa tantangan, membosankan; orang menjadi gelisah, tidak bersemangat, apatis.
Stres, Otak, dan Pembelajaran
Manusia membutuhkan stres, dalam batas dan kadar tertentu, untuk bisa berkembang. Otak bersifat plastis, senantiasa berubah mencerminkan lingkungannya. Lingkungan ideal untuk perkembangan otak adalah yang kaya stimulasi, penuh tantangan terkendali, dan kompleks.
Stres ringan hingga moderat menstimulasi hormon pertumbuhan neuron dan meningkatkan produksi sel otak di wilayah yang terlibat dalam proses belajar; stres ekstrem justru menghambatnya. Dalam proses tumbuh kembang, anak perlu dipapar pada stres yang berulang, terukur, aman, dalam konteks interpersonal yang mendukung, sehingga toleransi stresnya meningkat.
Keberhasilan mengatasi tantangan membuat individu semakin mampu menghadapi tantangan lanjutan yang lebih berat dan kompleks.
Kondisi Anak Saat Ini
Anak-anak saat ini sangat sering mengalami stres berlebih: tuntutan orangtua yang melampaui usia anak, kurangnya perhatian dan kasih sayang, beban akademik tinggi, kurangnya waktu bermain, hingga kebiasaan membandingkan anak dengan anak lain.
Stres ringan yang sebenarnya baik untuk anak bisa cepat berubah menjadi distres bila anak merasa tidak mampu. Sebaliknya, distres dapat berubah menjadi eustres bila anak mendapat dukungan orangtua: perasaan tidak berdaya berganti harapan pasti. Di sinilah dibutuhkan pendampingan berkelanjutan.
Kondisi lain yang juga tidak baik adalah hipostres: anak terlalu dilindungi, semua masalahnya ditangani orangtua. Anak tidak diberi kesempatan menyelesaikan urusannya sendiri, sehingga tidak pernah tahu bahwa ia bisa, mampu, dan kompeten.
Vaksin Stres
Anak perlu diberi atau diijinkan mengalami stres yang terkontrol, dengan pendampingan orangtua. Vaksin stres perlu diberikan secara bertahap, sama seperti berlatih beban: dimulai ringan, lalu meningkat seiring otot mental anak menguat.
Otot mental ini akan sangat besar manfaatnya saat anak dewasa kelak: menghadapi masalah hidup, mengatasi tekanan pekerjaan, dan bekerja keras mewujudkan impian-impiannya. Salah satu contoh vaksin stres yang sederhana: mengijinkan anak merasa kecewa karena permintaannya tidak dikabulkan. Tidak semua permintaan anak harus dipenuhi; berbagai kemudahan justru membuat anak rentan terhadap stres di kemudian hari.
Dilansir dari www.adiwgunawan.com