Artikel

Pengaruh Cinta, Perhatian, dan Kasih Sayang Terhadap Perkembangan Otak dan Perilaku Anak

Setiap orangtua menyadari pentingnya asupan nutrisi yang baik untuk pertumbuhan anak. Selain nutrisi fisik, orangtua juga perlu memerhatikan nutrisi psikis: cinta, perhatian, dan kasih sayang yang diwujudkan dalam ucapan, tindakan, sentuhan, dan tutur kata lembut. Anak yang kurang mendapat nutrisi psikis akan mengalami banyak gangguan pada pertumbuhan fisik, mental, dan emosinya.

Ungkapan kasih orangtua dapat dilakukan dengan lima bahasa kasih: menyediakan waktu berkualitas, memberi pujian atau kata-kata yang mendukung, tindakan pelayanan, sentuhan fisik, dan pemberian hadiah, dilengkapi tatapan mata saat berkomunikasi dengan anak.

Pengalaman klinis dalam membantu anak yang dianggap “bermasalah” menemukan fakta penting: hampir semua masalah berawal dari pola asuh yang tidak tepat sejak anak lahir, umumnya berupa pengalaman traumatik, terutama psikis, seperti pengabaian dan kurangnya cinta serta perhatian.

Otak Bertumbuh Lewat Pengalaman

Ibarat sekuntum bunga yang tidak akan mekar maksimal tanpa cukup sinar matahari, otak anak tidak akan bertumbuh maksimal tanpa pengalaman positif melalui interaksi bermakna dengan lingkungan, terutama kedua orangtua atau pengasuh utamanya.

Setelah lahir, otak anak mengalami pertumbuhan sangat pesat, terutama pada volume dan kerumitan koneksi antarneuron. Pertumbuhan tercepat terjadi di prefrontal cortex (PFC) pada usia 6 hingga 12 bulan: wilayah otak yang menjalankan fungsi perencanaan, pemecahan masalah, pemusatan perhatian, kepribadian, kendali diri, emosi, dan perilaku.

Nutrisi cinta dan kasih sayang merangsang otak bayi menghasilkan beta-endorphin yang memberi rasa senang dan nyaman, membantu pertumbuhan sel otak di orbitofrontal cortex (OFC), bersama dopamin dari batang otak. OFC penting untuk penyesuaian sosial, kendali suasana hati, dorongan bertindak, tanggung jawab, dan pembentukan kepribadian.

Anak yang mengalami gangguan pertumbuhan OFC cenderung bereaksi pada situasi negatif tanpa berpikir panjang dan sulit mengendalikan responnya. Sebaliknya, dopamin dalam jumlah besar membuat anak lebih positif dan lebih cepat menyesuaikan diri dengan situasi, orang, dan lingkungan baru.

Lingkungan Positif Membentuk Anak Positif

Banyak studi menunjukkan anak yang tidak mendapat cinta, perhatian, dan kasih sayang mengalami gangguan pertumbuhan otak, keterlambatan pertumbuhan emosi dan sosial, hingga perilaku agresif dan hiperaktivitas. Studi pemindaian otak pada anak-anak panti asuhan menemukan beberapa wilayah otak mereka, termasuk OFC, sangat kurang aktivitasnya dibanding anak yang hidup bersama orangtuanya.

Anak yang tumbuh dalam lingkungan positif menjadi individu yang positif: stabil dan matang secara emosi, mampu beradaptasi, lebih mampu mengendalikan diri, memiliki belas kasih, dan merasa terhubung dengan orang lain.

Otak bayi bahkan mampu menilai kondisi emosi orangtuanya dengan membaca ekspresi wajah dan pupil mata. Bila orangtua bahagia, otak bayi secara instingtif menghasilkan senyawa kimiawi yang juga membuatnya bahagia. Bayi juga sangat peka merasakan emosi pengasuh utamanya: saat ibu cemas atau marah, anak menjadi rewel karena ikut merasakannya.

Sentuhan fisik yang penuh kasih merangsang otak dan tubuh anak menghasilkan oksitosin, yang meredam efek negatif rasa cemas dan takut. Kekurangan oksitosin membuat anak cenderung menerjemahkan banyak kejadian di lingkungannya sebagai ancaman.

Dilansir dari www.adiwgunawan.com

Kenali Potensi Anak Lebih Dalam

Artikel membuka wawasan; asesmen memberi peta. Mulai dari tes sampel gratis Grouwell, sekitar lima menit saja.